Kuasailah Media, Maka Kau Akan Menguasai Dunia

Senin, 12 Agustus 2013 » 0

source: Foto Ilustrasi: Media vs Kepentingan Pemilik (Sumber www.analisadaily.com)

Akhir-akhir ini banyak dijumpai grup dan forum diskusi di beberapa media, baik itu jejaring sosial, blog pribadi, situs berita online hingga web-web lintas agama dan politik. Lalu apa masalahnya? Seringnya dijumpai diskusi itu berlangsung padat dan penuh emosional. Apalagi ketika mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan politik dan SARA. Tak jarang bahkan para user yang berkomentar saling mengumpat dan melontarkan kata-kata kasar. Hal yang terkadang membuat tak nyaman bagi pembaca lain yang hanya sekedar ingin membaca jadi emosi dan ikut mengomentari. Alhasil, konten yang seyogyanya bisa menjadi ajang diskusi lumrah, bisa berubah menjadi kontes saling ejek, saling olok, saling umpat, caci dan saling menjatuhkan. Terlebih mereka yang kurang mengetahui etika berkomentar.

Tapi jangan salah, apa benar semua itu murni kesalahan dari user yang berkomentar? Belum tentu. Dari sekian banyak situs internet yang saya baca, cenderung menggunakan bahasa-bahasa yang ambigu. Mungkin bagi si pengelola situs tersebut diupayakan sebagai daya tarik. Tapi bisa juga berefek menjadi propaganda tertentu dan bahkan menjadi ajang provokasi kontra-produktif. Apalagi situs-situs internet yang bertendensi politis dan agama. Meskipun hal itu tidak bisa juga dipukul rata, dalam arti ada juga situs-situs internet yang berhaluan netral. Tapi itu hanya sedikit. Lebih banyak media-media tersebut merupakan ajang propaganda dan provokasi yang memang merupakan “pesanan” beberapa pihak tertentu.

Sebenarnya sejarah awal mula media massa adalah sebagai alat pergerakan yang membangkitkan kesadaran masyarakat yang pada waktu itu minim saluran informasi, dan “memprovokasi” meraka untuk berjuang melawan ketidakadilan. Sama-sama provokasi, namun tujuannya sangat jauh berbeda. Jika dahulu media dipakai untuk melawan “korporasi”, sekarang media telah menjadi “korporasi” itu sendiri, sehingga pemberitaan-pemberitaan yang "kontra-produktif" hanya dipakai untuk meningkatkan jumlah pelanggan dan mempertebal pundi-pundi pengelolanya. Model-model pemberitaan seperti itu menurut saya berpotensi mengebiri logika masyarakat karena mengedepankan dimensi emosional pembaca.
“There is no right, there is no wrong, there is only popular opinion”.

Pernah dalam satu diskusi, saya berada di dalam sebuah forum diskusi bertemakan agama. Saya pikir semula member-membernya akan saling memberikan pencerahan mengenai satu dan lain hal. Tapi tidak, yang ada di dalamnya hanya menjadi semacam ajang copas (copy paste) source dari media lain, yang belum tentu bisa dilegitimasi sebagai media yang netral. Apa yang terjadi kemudian? Para member cenderung hanya memposting hal-hal berupa copas dari media lain, yang kemudian dikomentari member lain dengan (juga) mengcopas source dari media lain hanya sekedar untuk membantah, bukan untuk mencari intisari kebenaran. Bahkan ada salah satu member yang berkata bahwa jika ada member yang tidak sependapat maka dipersilahkan dengan bebas untuk keluar dari forum. Saya makin tidak habis pikir, ini ajang diskusi kenapa bisa jadi ajang gontok-gontokan dan fanatisme kelompok? Kalo memang forum dibuat untuk mereka-mereka yang “sependapat”, untuk apa menarik member? Bahkan saking sederhananya untuk mempertanyakan hal itu adalah, untuk apa harus dibuat forum?

Media mungkin saja bisa menjadi ajang pemersatu, tapi jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang cenderung negatif, maka media bisa menjadi ajang pemecah belah. Kita tidak tahu siapa owner sesungguhnya media, dan juga visi misi yang ada di baliknya. Jaman sekarang,  media adalah rajanya. Opini media akan diterima banyak orang, apa yang dikatakan oleh media akan diaminkan sebagian besar penduduk bumi. Media adalah kitab suci jaman modern. Seperti quote yang mungkin tidak asing bagi pelaku media, yang menjadi judul dari tema ini. Absolutely right!

Sakisaku

Anda sedang membaca Kuasailah Media, Maka Kau Akan Menguasai Dunia di "under the brain".

It's About

Leave a Reply

sakisaku